Brilio.net - Di rumahnya di Carita, Surakman bukan orang yang banyak bicara. Pria 60 tahun itu lebih sering menjalani keseharian dengan bekerja dan memperhatikan keluarganya.

Bagi sang kakak, Ratna (64), perhatian Surakman justru terasa dari hal-hal sederhana. Ketika datang, Surakman biasa menengok keadaan Ratna. Ia bisa bertanya apakah kakaknya sudah sarapan atau membawa makanan seperti bubur ketika diperlukan.

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Hal-hal kecil semacam itu menjadi bagian dari keseharian Surakman dan Ratna. Sang kakak telah mengalami tunanetra sejak lahir, sementara Surakman tumbuh sebagai adik yang terbiasa membantunya.

Surakman sendiri sudah akrab dengan laut sejak kecil. Setelah lulus sekolah dasar (SD), ia tidak melanjutkan pendidikan dan langsung bekerja bersama orang tuanya yang juga seorang pelaut.

Puluhan tahun kemudian, laut pula yang membawanya pada perjalanan terakhir.

Surakman menjadi ABK KM Arupadhatu I, kapal yang pada 7 September 2026 membawa lima jurnalis bersama tiga kru untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kapal itu kemudian hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 12 September 2026, seorang pria tanpa identitas ditemukan masyarakat di Pulau Enggano, Bengkulu. Jenazah itu sempat dimakamkan sebelum akhirnya diekshumasi dan menjalani proses identifikasi. Hasil pencocokan DNA kemudian memastikan jenazah tersebut adalah Surakman.

Pada saat bersamaan, tim SAR Gabungan melaksanakan operasi pencarian terhadap rombongan 5 jurnalis dan 3 kru kapal Arupadhatu selama 10 hari (8-17 September 2026). Hasilnya nihil. Kedelapan orang belum ditemukan. Beberapa kali tim SAR Gabungan menemukan life jacket, jeriken, maupun helm, ternyata dibuktikan bukan milik rombongan jurnalis yang hilang kontak.

Laut sudah menjadi bagian dari hidup Surakman

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Bagi Ratna, adiknya memang sudah lama tidak bisa dipisahkan dari laut.

Setelah menyelesaikan SD, Surakman langsung bekerja. Ia mengikuti orang tuanya yang juga mencari penghidupan di laut.

Pekerjaan itu kemudian menjadi jalan hidup Surakman. Ia sempat menjalani kehidupan sebagai nelayan sebelum beralih menjadi ABK perahu cepat ketika usianya semakin bertambah.

Sebagai ABK, Surakman biasa membawa wisatawan menuju sejumlah kawasan di sekitar Carita, Ujung Kulon, hingga Krakatau. Untuk satu perjalanan dari pagi sampai sore, ia disebut mendapat upah sekitar Rp150 ribu-Rp200 ribu, sebagaimana dilaporkan Detik.com.

Kehidupan sebagai pelaut membuat Surakman terbiasa dengan perjalanan laut. Namun bagi keluarganya, pekerjaan itu bukan satu-satunya hal yang menggambarkan dirinya.

Di rumah, ia tetap menjadi adik bagi Ratna.

Perhatian kepada kakak yang tunanetra

Ratna, 64 tahun, sudah mengalami tunanetra sejak lahir.

Surakman tumbuh bersamanya dan sejak kecil terbiasa membantu sang kakak. Kebiasaan tersebut tidak berhenti ketika keduanya sudah dewasa.

Ratna mengingat bagaimana adiknya memperhatikan dirinya tanpa banyak bicara.

Ketika datang, Surakman bisa langsung menengok Ratna yang sedang melakukan pekerjaan rumah. Ia juga menanyakan apakah kakaknya sudah makan atau sarapan.

Jika diperlukan, Surakman membawakan makanan.

Perhatian tersebut terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang paling diingat Ratna setelah adiknya pergi untuk perjalanan yang tidak pernah membawanya pulang.

Di mata putranya, Yayat, Surakman juga dikenal sebagai pribadi pendiam dan pekerja keras. Ia disebut tidak banyak mengeluh mengenai pekerjaannya. Di lingkungan tempat tinggalnya, Surakman juga dikenal ikut bergotong royong bersama warga.

Siang itu, Surakman sebenarnya tidak berencana melaut

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

7 September seharusnya bukan hari Surakman kembali melaut. Setelah sekitar tiga minggu tidak bekerja di laut, ia justru sudah punya rencana untuk berangkat keesokan harinya, 8 September, mengantar wisatawan menuju Ujung Kulon.

Senin siang itu, Surakman masih berada di rumah bersama cucu dan menantunya, Diah. Rencana berubah setelah Warta, sepupunya yang menjadi kapten KM Arupadhatu I, datang sekitar pukul 13.00 WIB dan mengajaknya ikut berlayar.

Surakman akhirnya memilih berangkat hari itu juga.

Kepergiannya berlangsung singkat. Tidak banyak barang yang disiapkan untuk perjalanan tersebut. Diah menyebut Surakman hanya pergi dengan pakaian yang dikenakan saat itu dan sebuah telepon seluler Nokia lama.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Surakman berpamitan kepada keluarga. Saat itu, keberangkatannya tidak terlihat seperti sesuatu yang istimewa. Ia pergi untuk bekerja, sebagaimana yang sudah biasa dilakukan selama bertahun-tahun.

Keluarga tentu belum mengetahui bahwa perjalanan tersebut akan menjadi perpisahan terakhir mereka dengan Surakman. Setelah kapal KM Arupadhatu I berangkat dari Carita bersama lima jurnalis dan dua awak lainnya, komunikasi dengan kapal kemudian terputus.

Berangkat bersama lima jurnalis

KM Arupadhatu I berangkat dari wilayah Carita dengan membawa delapan orang.

Lima di antaranya merupakan jurnalis, sementara tiga lainnya adalah kru kapal, termasuk Surakman.

Rombongan tersebut hendak melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Perjalanan yang semula merupakan pekerjaan biasa kemudian berubah menjadi pencarian setelah KM Arupadhatu I hilang kontak di perairan Selat Sunda pada Senin, 7 September 2026.

Keluarga Surakman pun mulai menunggu.

Hari-hari berikutnya diisi dengan pencarian tim SAR dan harapan bahwa delapan orang yang berada di kapal tersebut dapat ditemukan.

Lima hari kemudian, jenazah ditemukan jauh dari Carita

Pada 12 September, seorang pria tanpa identitas ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu.

Lokasi penemuan tersebut berada jauh dari titik pencarian rombongan KM Arupadhatu I di Selat Sunda. Diperkirakan sejauh 380 km jarak titik kapal hilang kontak dengan Pulau Enggano.

Saat ditemukan, jenazah tersebut belum diketahui identitasnya.

Warga kemudian memakamkannya di Enggano.

Pada tahap itu, belum ada kepastian bahwa jenazah tersebut adalah salah satu orang dari rombongan KM Arupadhatu I.

Informasi mengenai penemuan jenazah kemudian ditelusuri dan dikaitkan dengan pencarian rombongan kapal yang hilang.

Makam pun akhirnya dibongkar kembali untuk memungkinkan proses identifikasi dilakukan.

Nama Surakman dipastikan lewat DNA

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Jenazah kemudian menjalani pemeriksaan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri.

Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan data jenazah dengan data keluarga dari orang-orang yang masih dalam pencarian.

Hasilnya mengarah kepada satu nama: Surakman atau Sukarman, 60 tahun.

Pada 23 September 2026, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengumumkan bahwa hasil pemeriksaan DNA menunjukkan kecocokan antara jenazah yang ditemukan di Enggano dengan keluarga Surakman. Pemeriksaan tersebut juga memastikan hubungan biologis Surakman dengan putranya, Yayat.

Kabar tersebut memberikan jawaban bagi keluarga setelah lebih dari dua pekan menunggu. Namun, jawaban itu sekaligus menjadi kabar duka.

Surakman yang selama ini ditunggu pulang ternyata ditemukan dalam keadaan meninggal, jauh dari rumahnya di Carita.

Kembali ke Carita, kali ini untuk dimakamkan

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Pada Kamis, 24 September 2026, jenazah Surakman akhirnya tiba di Carita.

Jenazah sebelumnya diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta, kemudian dibawa menuju kampung halamannya di Carita. Polda Bengkulu sebelumnya memastikan jenazah dikirim ke Banten pada Kamis (24/9/2026) setelah proses identifikasi selesai.

Suasana haru menyambut kedatangan Surakman.

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Dikabarkan, warga sudah berkumpul sejak pagi di Masjid Agung Al Khusaeni, Carita. Jenazah tiba sekitar pukul 10.45 WIB dan langsung dibawa ke masjid untuk disalatkan. Tangis keluarga, kerabat, dan warga mengiringi kedatangannya.

Informasi dari akun Instagram @caritaeksis dan TikTok Bupati Pandeglang @rd.dewisetiani juga menggambarkan suasana serupa. Keluarga dan warga menyambut jenazah dengan rasa duka sebelum kemudian mengantarkannya menuju pemakaman di Kidemang, Desa Carita, Kecamatan Carita, Pandeglang.

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Surakman kemudian diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Ki Demang, tak jauh dari masjid.

Keluarga, kerabat, dan warga ikut berjalan mengantarkan peti jenazah.

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Surakman Arupadatu © 2026

Surakman Arupadatu
© 2026 /TikTok/@rd.dewisetiani

Doa dari dunia maya pun mengalir untuk Surakman. Kabar beredar menyebut ia berangkat bekerja dalam kondisi perut kosong. Tak pelak untaian doa para warganet menyebut ia tak lagi lapar, ia bisa kenyang di surga. Selamat jalan, Abah Surakman. Surga tempat Abah.