Brilio.net - Wilayah Lebanon Selatan kembali memanas dan membawa duka bagi bangsa Indonesia. Dalam dua hari berturut-turut, tiga prajurit terbaik TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) UNIFIL dilaporkan gugur akibat serangan di zona konflik. Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3/2026) di dekat Adchit El Qousair, di mana tembakan artileri militer Israle (IDF) dan Hizbullah mengenai posisi pasukan dan menyebabkan satu prajurit meninggal dunia.

Keesokan harinya, Senin (30/3/2026), ledakan kembali menghantam konvoi logistik dan pengawalan kendaraan UNIFIL di kawasan Bani Hayyan yang merenggut nyawa dua prajurit lainnya. Pihak PBB telah mengonfirmasi peristiwa tragis ini, sementara investigasi mendalam tengah dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku dan motif serangan terhadap pasukan perdamaian tersebut.

Berikut profil tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, Kamis (2/4/2026).

Profil Tiga Pahlawan Perdamaian Kontingen Garuda

1. Praka Farizal Rhomadhon

Prajurit TNI Gugur di Lebanon berbagai sumber

Praka Farizal Romadhon
foto: Instagram/@farizalrmdn17

Prajurit kelahiran Kulon Progo, 3 Januari 1998 ini menutup usia pada umur 28 tahun. Praka Farizal merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti yang bernaung di bawah Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, Aceh. Di kesatuannya, ia mengemban amanah sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kompi Markas.

Farizal mulai bertugas di Lebanon Selatan sejak April 2025. Seharusnya, masa tugasnya berakhir pada bulan ini. Ibunda almarhum, Supinah, mengungkapkan bahwa putranya sudah memiliki tiket pulang.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan satu anak perempuan berusia dua tahun. Kapendam Iskandar Muda, Kolonel Inf T. Mustafa Kamal, mengenang almarhum sebagai sosok yang taat beribadah dan sangat loyal.

2. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar

Prajurit TNI Gugur di Lebanon berbagai sumber

Kapten Inf Zulmi Aditya
foto: X/@tni_ad

Kapten Zulmi adalah perwira dari satuan elite Grup 2 Kopassus (Sandi Yudha) yang bermarkas di Kartasura, Jawa Tengah. Lulusan Akademi Militer tahun 2015 ini gugur pada usia 34 tahun saat menjalankan tugas sebagai Komandan Kompi Task Force B. Dalam misi UNIFIL, ia memegang peran krusial dalam memimpin operasi mobile reserve dan pengawalan logistik di titik-titik rawan. Kapten Zulmi dikenal sebagai perwira yang cerdas dengan latar belakang pendidikan Manajemen Pertahanan.

3. Sertu Muhammad Nur Ichwan

Prajurit TNI Gugur di Lebanon berbagai sumber

Sertu M Nur Ichwan
foto: X/@tni_ad

Menjadi prajurit termuda yang gugur dalam insiden ini, Sertu Ichwan lahir pada 12 Mei 2000 di Magelang. Sehari-hari, ia bertugas di Kesdam IX/Udayana sebagai tenaga medis (perawat). Almarhum berada dalam kendaraan yang sama dengan Kapten Zulmi saat ledakan terjadi di Bani Hayyan. Sertu Ichwan meninggalkan seorang istri dan anak pertama yang baru lahir pada Agustus 2025 lalu. Dedikasinya di Lebanon dimulai sejak April 2025 dan ia dijadwalkan kembali ke tanah air pada Mei 2026.

Respons Pemerintah dan Hak-Hak Prajurit

Gugurnya tiga prajurit ini memicu keprihatinan mendalam. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa melalui saluran resmi.

"Innalillahi waina ilaihi rajiun, turut berdukacita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah," tulis Presiden Prabowo.

Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memastikan negara memberikan penghormatan tertinggi berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang (KPLB OMSPA) Anumerta serta medali "Dag Hammarskjold", sebagaimana dikutip dari Antara. 

Selain itu, keluarga ahli waris akan menerima santunan tunai dengan rincian sebagai berikut:
- Keluarga Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar: Rp 1.894.688.236
- Keluarga Sertu Muhammad Nur Ichwan: Rp 1.846.309.049
- Keluarga Praka Farizal Rhomadhon: Rp 1.854.075.205

Fasilitas lain yang diberikan mencakup gaji terusan selama satu tahun, beasiswa untuk dua orang anak, serta tunjangan pensiun.

Desakan Investigasi Internasional

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mendesak agar pemerintah segera melakukan langkah diplomatik melalui PBB.

"Saya sangat menyayangkan tragedi tersebut dan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga prajurit. Almarhum gugur sebagai pahlawan bangsa saat menjalankan amanah konstitusi untuk menjaga perdamaian dunia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa," tegasnya, Selasa (31/3/2026).

DPR mendorong investigasi yang transparan agar keamanan personel TNI yang masih bertugas di wilayah konflik tetap terjaga dan insiden serupa tidak terulang kembali.