Brilio.net - Menanam alpukat bisa dimulai dari biji buah yang sudah dikonsumsi maupun menggunakan bibit hasil okulasi. Keduanya memiliki proses dan tujuan yang berbeda. Menanam dari biji relatif mudah dan murah untuk dilakukan di rumah, sedangkan bibit okulasi lebih cocok jika ingin mendapatkan pohon yang lebih cepat memasuki masa berbuah.

Keberhasilan menanam alpukat bukan hanya ditentukan oleh cara menanamnya. Kondisi tanah, drainase, paparan sinar matahari, penyiraman, pemupukan, hingga pemangkasan juga perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Mengutip informasi yang dilansir dari Liputan6, alpukat atau Persea americana berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Tanaman ini dapat tumbuh menjadi pohon cukup besar sehingga sejak awal perlu dipertimbangkan apakah akan ditanam di pot atau langsung di lahan.

Cara menanam alpukat dari biji

Bagi yang baru mencoba berkebun, biji alpukat bisa menjadi pilihan karena dapat diperoleh dari buah yang sudah dimakan. Namun, tanaman yang berasal dari biji membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah. Sifat tanaman yang tumbuh juga belum tentu sama persis dengan pohon induknya.

Berikut tahapan yang bisa dilakukan:

1. Pilih biji dari buah yang matang dan sehat. Bersihkan sisa daging buah menggunakan air. Usahakan lapisan cokelat pada biji tidak rusak.

2. Perhatikan posisi biji. Bagian yang lebih datar merupakan bagian bawah tempat akar berkembang, sedangkan bagian yang lebih runcing menjadi tempat tumbuhnya tunas.

3. Gunakan metode tusuk gigi jika ingin menyemai di air. Tancapkan tiga atau empat tusuk gigi di sisi biji, kemudian letakkan di atas gelas berisi air. Bagian bawah biji cukup terendam sekitar sepertiganya.

4. Tunggu hingga akar dan tunas tumbuh. Proses ini dapat berlangsung sekitar dua sampai enam minggu. Setelah batang mencapai kurang lebih 15 cm, batang dapat dipotong sekitar separuhnya untuk mendorong pertumbuhan yang lebih rimbun.

5. Pindahkan ke media tanam. Setelah tumbuh, tanam biji pada media yang subur dan memiliki drainase baik. Sebagian biji tetap dibiarkan berada di atas permukaan tanah.

Selain menggunakan air, biji alpukat juga dapat langsung ditanam. Bahan sumber yang mengacu pada CSU Extension menyebutkan biji dapat direndam semalaman terlebih dahulu, kemudian ditanam dengan bagian yang lebih besar menghadap ke bawah pada tanah yang memiliki drainase baik.

Cara menanam alpukat dari bibit okulasi

Jika tujuan utamanya adalah mendapatkan pohon yang lebih cepat berbuah, bibit okulasi atau hasil sambung pucuk dapat menjadi pilihan. Teknik tersebut memungkinkan tanaman membawa sifat unggul dari induknya dan umumnya lebih cepat berbuah dibandingkan tanaman yang ditumbuhkan dari biji.

Tahap penanamannya antara lain:

1. Pilih bibit yang sehat. Perhatikan kondisi batang, daun, dan pastikan tidak terlihat tanda serangan hama. Beberapa varietas yang disebut dalam bahan sumber antara lain Miki, Aligator, Kendil, dan Red Vietnam.

2. Pilih lokasi yang mendapat cukup cahaya. Area penanaman sebaiknya mendapatkan sinar matahari dan tidak terlalu terbuka terhadap angin kencang.

3. Siapkan lubang tanam. Untuk penanaman di lahan, bahan sumber menggunakan ukuran sekitar 75 x 75 x 75 cm. Lubang dapat dibiarkan terbuka selama satu hingga dua minggu sebelum digunakan.

4. Perbaiki kondisi tanah. Tanah lapisan atas dapat dicampur dengan kompos atau pupuk kandang matang. Jika tanah terlalu asam, dolomit dapat digunakan untuk membantu menyesuaikan pH.

5. Hindari posisi akar terlalu rendah. Alpukat sensitif terhadap genangan air. Karena itu, bibit dapat ditanam sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah menggunakan sistem busut atau gundukan.

6. Tanam bibit dengan hati-hati. Saat mengeluarkan bibit dari polybag, usahakan akar tidak rusak. Posisikan batang tetap tegak dan tanam sebatas leher batang.

7. Siram setelah penanaman. Tambahkan mulsa di sekitar tanaman, tetapi jangan sampai menempel pada batang. Bibit muda juga dapat diberi ajir dan pelindung untuk membantu menghadapi angin atau kondisi cuaca ekstrem.

Untuk penanaman dalam pot, gunakan wadah yang cukup besar dan memiliki lubang drainase. Bahan sumber menyebutkan pot berdiameter minimal sekitar 50 cm serta penggunaan media yang gembur dan memiliki pori yang baik.

Perawatan alpukat agar tumbuh subur

Setelah bibit ditanam, perawatan menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan. Tanaman membutuhkan keseimbangan air dan nutrisi, sementara cabang serta kondisi daun juga perlu diperhatikan secara berkala.

1. Atur penyiraman

Tanaman muda dapat disiram sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu. Setelah akar berkembang lebih baik, frekuensinya dapat dikurangi, dengan tetap menyesuaikan kondisi cuaca dan kelembapan tanah.

Bahan sumber yang mengutip EOSDA Crop Monitoring menyebutkan kebutuhan air pohon dewasa dapat mencapai sekitar 50 mm per minggu. Angka tersebut bukan berarti tanaman harus disiram dengan jumlah yang sama setiap kondisi, karena kebutuhan air tetap dipengaruhi cuaca dan kondisi lingkungan.

2. Berikan pupuk sesuai fase pertumbuhan

Pupuk NPK berimbang dapat digunakan ketika tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif. Saat memasuki fase generatif, pupuk dengan kandungan kalium lebih tinggi dapat digunakan. Pupuk kandang juga dapat diberikan secara berkala.

Penempatan pupuk sebaiknya tidak hanya berfokus di dekat batang. Bahan sumber menyarankan pemberian mengikuti area ujung tajuk karena bagian tersebut berkaitan dengan area akar aktif menyerap nutrisi.

3. Pangkas cabang yang tidak diperlukan

Pemangkasan dapat dilakukan sejak tanaman masih muda untuk mendorong percabangan. Cabang mati atau terlalu rapat juga perlu disingkirkan agar bentuk tanaman lebih mudah dirawat.

Tinggi pohon juga perlu diperhatikan, terutama jika alpukat ditanam untuk kebutuhan rumah tangga. Bahan sumber menyebut kisaran tinggi sekitar 4-5 meter dapat membantu memudahkan perawatan dan pemanenan.

4. Bersihkan gulma di sekitar tanaman

Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dapat bersaing dalam mendapatkan air dan nutrisi. Karena itu, area sekitar pohon perlu diperiksa secara rutin dan gulma yang mengganggu sebaiknya disingkirkan.

Jika ada bibit yang mati, lakukan penyulaman dengan bibit sehat agar pertumbuhan tanaman di kebun tetap seragam.

5. Periksa hama dan penyakit

Beberapa gangguan yang perlu diwaspadai antara lain thrips, tungau, ulat, kutu putih, busuk akar akibat Phytophthora, dan antraknosa. Pemeriksaan rutin membantu menemukan masalah ketika gejalanya masih awal.

6. Lindungi tanaman muda dari panas berlebihan

Tanaman alpukat yang masih muda lebih rentan mengalami sengatan matahari. Saat cuaca sangat panas, tanaman dapat diberi jaring peneduh atau perlindungan pada batang sesuai kondisi di lokasi penanaman.

Kondisi yang dibutuhkan tanaman alpukat

Selain teknik penanaman, kondisi lingkungan ikut menentukan perkembangan pohon alpukat. Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur dan tidak mudah menahan air.

Bahan sumber menyebutkan sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan, antara lain:

Tanah: media sebaiknya gembur, subur, kaya bahan organik, dan memiliki drainase baik.
Ketinggian: alpukat dapat tumbuh pada sekitar 5-1.500 meter di atas permukaan laut, dengan kondisi yang disebut lebih optimal pada kisaran 200-1.000 mdpl.
Suhu: kisaran yang dicantumkan dalam sumber adalah sekitar 12,8-28,3 derajat Celsius.
Cahaya: tanaman membutuhkan sekitar enam hingga delapan jam paparan sinar matahari penuh setiap hari.
Air: kebutuhan air perlu disesuaikan dengan kondisi tanaman, tanah, dan cuaca.
Angin: angin dapat membantu penyerbukan, tetapi angin terlalu kencang berisiko merusak ranting.
Drainase: kondisi ini menjadi perhatian penting karena akar alpukat sensitif terhadap genangan.
Jarak tanam: untuk kebun, bahan sumber mencantumkan jarak sekitar 9 x 12 meter agar tanaman memperoleh cahaya dan sirkulasi udara yang cukup.

Untuk penanaman di halaman rumah, kondisi drainase sebaiknya diperiksa terlebih dahulu. Tanah yang terus-menerus tergenang dapat meningkatkan risiko masalah pada akar.

Apakah alpukat langsung matang setelah dipetik?

Tidak selalu. Alpukat memiliki karakter berbeda dari buah yang langsung matang sempurna ketika masih berada di pohon. Buah alpukat umumnya melunak setelah dipetik.

Bahan sumber yang mengacu pada Homestead and Chill juga mencatat bahwa sebagian buah dapat bertahan cukup lama di pohon setelah mencapai ukuran matang. Varietas Hass, misalnya, disebut dapat bertahan sekitar delapan bulan dalam kondisi tersebut.

Karena itu, waktu panen perlu diperhatikan berdasarkan kondisi buah dan varietasnya, bukan hanya menunggu buah terlihat lunak ketika masih berada di pohon.

FAQ

1. Apakah alpukat bisa ditanam dari bijinya?

Bisa. Biji alpukat dapat disemai menggunakan metode air dengan tusuk gigi atau langsung ditanam pada media yang memiliki drainase baik. Namun, tanaman dari biji umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah dan sifatnya belum tentu sama dengan induknya.

2. Mana yang lebih cepat berbuah, alpukat dari biji atau okulasi?

Bibit okulasi atau sambung pucuk umumnya lebih cepat berbuah dibandingkan tanaman yang berasal dari biji. Bibit tersebut juga digunakan untuk mempertahankan sifat unggul dari tanaman induk.

3. Mengapa drainase penting untuk pohon alpukat?

Alpukat memiliki akar yang sensitif terhadap genangan. Media atau lahan yang terlalu lama menahan air dapat meningkatkan risiko gangguan pada akar, termasuk busuk akar. Karena itu, tanah yang gembur dan memiliki drainase baik penting sejak awal penanaman.