Brilio.net - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan temuan awal terkait kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Salah satu poin penting yang disampaikan menyangkut kondisi teknis taksi listrik berwarna hijau milik Green SM yang sempat terhenti di atas rel perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi.
Temuan ini disampaikan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI pada Kamis, 21 Mei 2026.
Sistem Kendaraan Dipastikan Normal Sebelum Kejadian
Hasil investigasi KNKT Bekasi Timur
© 2026 YouTube/TVR PARLEMEN
Berdasarkan analisis data onboard unit (OBU) kendaraan bernomor polisi B 2864 SBX, KNKT memastikan tidak ada gangguan pada sistem kendaraan dalam rentang satu jam sebelum insiden terjadi.
"Data onboard unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian," ujar Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, dikutip dari TVR Parlemen, Kamis (21/5/2026), dikutip brilio.net pada Jumat (22/5/2026).
Dengan demikian, terhentinya kendaraan di tengah rel bukan disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi teknis pada taksi listrik tersebut. KNKT juga menyebutkan bahwa mobil tersebut sebenarnya telah lolos uji kompatibilitas elektromagnetik standar India (EMC AIS-004), yang setara dengan standar internasional UN R10. Regulasi di Indonesia sendiri tidak mewajibkan kendaraan untuk mematuhi standar tersebut.
Hal senada juga ditegaskan pihak Green SM dalam keterangan resminya, bahwa data dari onboard unit (OBU) membuktikan kendaraan berfungsi 100% normal tanpa error hingga 1 jam sebelum kejadian. Terhentinya kendaraan di atas rel murni merupakan akibat dari kesalahan operasional pengemudi baru (memindahkan tuas ke posisi N/Netral saat jalan menurun, lalu memindahkannya ke posisi P/Parkir karena panik).
Kronologi: Transmisi Berubah dari "D" ke "N" di Jalan Menurun
Hasil investigasi KNKT Bekasi Timur
© 2026 YouTube/TVR PARLEMEN
KNKT mencatat, kendaraan awalnya melaju normal dari arah utara menuju selatan dengan posisi transmisi "D" (drive) pada kecepatan sekitar 15 km/jam. Namun, saat memasuki jalur menurun dengan kemiringan 2,9 persen, posisi transmisi berpindah ke "N" (netral).
"Kemudian, kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 km/jam. Ini kami tidak tahu kenapa kok diposisikan netral," ucap Soerjanto.
Pengemudi membiarkan kendaraan meluncur sambil melakukan pengereman ringan hingga akhirnya masuk ke area perlintasan rel.
Upaya Gas Tidak Berhasil karena Transmisi Masih di Posisi Netral
Hasil investigasi KNKT Bekasi Timur
© 2026 YouTube/TVR PARLEMEN
Sesaat setelah kendaraan berada di atas rel, pengemudi menginjak pedal gas hingga 25 persen, namun kendaraan tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi netral (N).
"Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N," kata Soerjanto.
Pada pukul 20.46.43 WIB, posisi transmisi sempat kembali berpindah ke "D" (drive), tetapi pengemudi tidak menginjak pedal gas sehingga kendaraan tetap diam. Tak lama kemudian, transmisi berpindah lagi ke posisi "P" (parkir). Dalam kondisi itulah pengemudi terus menginjak gas, rem, dan mencoba mematikan serta menghidupkan kendaraan, namun kendaraan tidak bisa bergerak karena transmisi berada di posisi parkir (P).
Kegagalan Sistem Perkeretaapian Jadi Pemicu Utama Tabrakan Beruntun
Hasil investigasi KNKT Bekasi Timur
© 2026 YouTube/TVR PARLEMEN
Terlepas dari insiden terhentinya taksi di atas rel, temuan lapangan berkenaan pemicu utama tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL adalah kegagalan sistemik pada infrastruktur perkeretaapian. Terdapat tiga faktor yang diidentifikasi:
Pertama, kesalahan persinyalan akibat keterbatasan sensor Titik 14T. Sinyal keluar J12 tetap menyala hijau karena posisi PLB 5568 (Kereta KRL) berada di luar deteksi Stasiun Bekasi. Situasi makin kritis karena PLB 5568 terlambat 8 menit, sedangkan KA Argo Bromo Anggrek melaju 3 menit lebih cepat dari jadwal. Kegagalan sensor ini akhirnya memicu tabrakan susulan dalam waktu 3 menit 43 detik.
Kedua, jeda komunikasi darurat akibat rantai birokrasi kendali operasi. Koordinasi antara PK Selatan dan PK Timur terfragmentasi karena pesan darurat harus berputar terlebih dahulu sebelum bisa diteruskan ke masinis. Alur komunikasi yang panjang dan berbelit ini menciptakan delay fatal yang menghilangkan momen kritis untuk melakukan pengereman.
Ketiga, polusi cahaya lingkungan yang menyamarkan Sinyal Bantu UB104. Pandangan masinis terganggu secara drastis oleh pendaran lampu dari lapak pasar malam dan permukiman warga di sekitar rel. Lampu-lampu lingkungan tersebut memiliki warna putih dan intensitas yang sangat mirip dengan sinyal UB104, sehingga menyulitkan masinis melihat indikasi bahaya di malam hari.
Hasil investigasi KNKT Bekasi Timur
© 2026 YouTube/TVR PARLEMEN
Recommended By Editor
- Profil dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, ahli bedah relawan Gaza selamatkan korban tragedi Bekasi Timur
- Menteri PPPA minta maaf usul gerbong perempuan KRL di tengah, tegaskan keselamatan semua gender utama
- Daftar nama korban selamat insiden KRL Bekasi Timur yang lahir pada 27 April persis tanggal kejadian
- Data terkini kecelakaan kereta Bekasi Timur, korban meninggal bertambah jadi 16 orang
- Daftar nama korban meninggal tabrakan kereta Bekasi Timur, 10 jenazah di RS Polri teridentifikasi
- Karyawan Alice Norin selamat dari kecelakaan KRL & KA Argo Bromo Anggrek Bekasi, sempat terlempar
- Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo: Korban jiwa capai 14 Orang, Presiden perintahkan evaluasi




































